PAGI itu, 20 Agustus 2026, ruang belajar di Dusun Olas dan Dusun Ani, Desa Loki, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat, tidak sekadar menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Ia berubah menjadi ruang latihan.

Di sana, guru-guru kembali mengambil posisi sebagai peserta didik. Mereka berdiri di depan kelas, mencoba membuka pelajaran, menyampaikan materi, hingga menerima masukan dari rekan-rekan mereka. Di sisi lain, suara anak-anak terdengar berlatih menyampaikan ceramah. Sementara di atas selembar kertas, goresan pena perlahan membentuk aksara Arab dalam seni kaligrafi Islam.

Selama dua hari, suasana itu menjadi bagian dari Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri Abdul Muthalib Sangadji Ambon, 20 – 23 Agustus 2026.

Kegiatan yang ditutup pada Sabtu, 23 Agustus 2026, itu tidak dirancang sekadar sebagai kunjungan akademik atau seremoni pengabdian. Tim dosen Prodi PAI membawa tiga agenda yang saling berkaitan: Memperkuat kompetensi guru, Membantu menghadirkan perangkat pembelajaran yang lebih baik, sekaligus Menumbuhkan kemampuan dakwah di tengah masyarakat dan siswa.

Tiga agenda itu bertemu pada satu tujuan: menghadirkan pendidikan yang tidak berhenti ketika kegiatan selesai.

Hari pertama dimulai pukul 08.00 WIT, setelah proses registrasi peserta. Diawali dengan materi “Profesi Keguruan dalam Perspektif PAI” yang dibawakan oleh Saida Manilet, M.Pd.I. Dosen Prodi Pendidikan Agamam Islam.

Di hadapan para peserta, profesi guru tidak ditempatkan semata-mata sebagai pekerjaan menyampaikan materi pelajaran. Guru agama, lebih dari itu, memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan nilai dalam proses pendidikan.

Dari pembicaraan tentang profesi keguruan, peserta kemudian diajak memasuki ruang yang lebih praktis: micro teaching.

Dr. Samad Umarella, M.Pd, dosen senior pada FTIK, yang turut mendampingi tim PAI, mengambil bagian dalam penyaluran pengetahuan mereka kepada para guru dan siswa.

Ia membedah micro teaching sebagai metode untuk melatih keterampilan mengajar secara terukur. Teori yang disampaikan pada pagi hari tidak dibiarkan berhenti sebagai catatan di atas kertas. Siangnya, ruang belajar disulap menjadi ruang praktik.

Satu per satu peserta tampil di depan kelas. Mereka mencoba mengajar sebagaimana yang biasa dilakukan di hadapan siswa. Namun kali ini ada perbedaan: setiap penampilan menjadi bahan pengamatan, evaluasi, dan refleksi bersama.

Praktik tersebut dipandu Syamsuar Hamka, M.Pd, dosen PAI. Ia bukan saja dosen pada PAI, Syamsur adalah Sekretaris PPG UIN Ambon, yang memang berpengalaman mengajarkan para guru.

Ia memandu jalannya acara itu dengan setiap tatapannya yang memonitor. Peserta tidak hanya belajar bagaimana berbicara di depan kelas, tetapi juga melihat kembali cara mereka mengajar melalui umpan balik yang diberikan setelah praktik.

Di sinilah micro teaching menemukan maknanya. Kesalahan tidak diperlakukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai bagian dari proses memperbaiki cara mengajar.

Arah jam di tangan Sekretaris PPG itu telah sampai di pukul 16.00 WIT. Aba-aba penutupan sudah tiba. Acara ditutup dengan refleksi.

Jika hari pertama lebih banyak berbicara tentang manusia di balik proses pembelajaran, hari kedua bergerak menuju alat yang digunakan guru untuk bekerja.

Workshop pengembangan modul dibuka oleh Dr. Nursaid, M.Ag. Nursaid, selain menjadi dosen PAI di UIN Ambon, ia adalah Ketua Program Studi Doktor di kampus bertajuk “Cerdas, Berbudi, dan Berdampak” tersebut.

Selaian memperkenalkan diri, Nursaid juga mengenalkan Prodi PAI di UIN Ambon, yang tidak hanya S1, tapi S2 dan S3. Di mana, para guru yang telah menyelesaikan S1, dapat melanjutkan jenjang studi ke Magister hingga Doktor, cukup di kampus UIN Ambon.

Giliran peserta masuk pada praktik penyusunan modul bersama Nur Khozin, M.Pd.I. Dosen PAI yang turut hadir tim Tangguh Prodoi PAI ini.

Di sesi ini, peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan. Mereka menyusun. Ada proses memilih materi, menata pembelajaran, hingga menerjemahkan kebutuhan kelas ke dalam perangkat yang dapat digunakan. Hasil akhirnya bukan sekadar pemahaman tentang modul, tetapi draf modul yang lahir dari tangan peserta sendiri.

Selepas istirahat, perhatian beralih pada instrumen penilaian.

Giliran Dr. St. Jumaeda, M.Pd.I. Ia juga dosen senior di PAI. Perempuan berkamata itu, rupanya mantan Dekan FTIK, yang kini diamanahkan sebagai Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Ambon.

Ia memaparkan prinsip penyusunan instrumen penilaian agar dapat selaras dengan capaian pembelajaran. Setelah itu, peserta kembali masuk ke tahap praktik bersama Dr. Eko Wahyunanto Prihono, M.Pd. Acara ini diakhiri dengan refleksi dari setiap peserta.

Dari sini terlihat bahwa penguatan pendidikan tidak cukup hanya dengan meningkatkan kemampuan guru berdiri di depan kelas. Guru juga membutuhkan perangkat yang membantu proses pembelajaran berjalan terarah dan penilaian yang mampu membaca capaian siswa secara tepat.

Di tengah agenda guru dan perangkat pembelajaran, kegiatan penguatan dakwah berjalan dengan warna yang berbeda.

Di mana, anak-anak menjadi pusat perhatian. Memang. Kehadiran kampus harus membawa warna sejuk akademik kepada semua kalangan. Tidak hanya guru, tapi masyarakat umum.

Muslim, M.Pd.I, dosen PAI yang setiap bersama Tim ini, melatih para siswa menyusun sekaligus membawakan ceramah. Bagi sebagian anak, berbicara di depan orang banyak bukan perkara mudah. Rasa malu, gugup, dan takut salah sering kali datang lebih dahulu. Namun perlahan, mereka mencoba.

Dengan pendampingan Nur Khozin, M.Pd, dan Syamsuar Hamka, M.Pd.I., anak-anak mulai berani tampil. Suara yang semula tertahan berubah menjadi suara yang terdengar lebih mantap.

Mimbar, dalam konteks itu, bukan hanya tempat menyampaikan pesan keagamaan. Ia menjadi ruang belajar keberanian.

Sore harinya, suasana berganti. Anak-anak diperkenalkan pada seni kaligrafi Islam oleh Dr. La Adu, M.A. Ia adalah dosen PAI yang kini menjabat sebagai Sekretaris Prodi S3 PAI.

La Adu memang tangkas di bidang kaligrafi. Ia banyak menyabet juara, tidak hanya tingkat lokal, tapi nasional.

Pena bergerak perlahan. Huruf-huruf Arab ditulis dengan memperhatikan kaidah dan bentuknya. Dari sebuah goresan sederhana, peserta belajar bahwa seni juga dapat menjadi jalan untuk mendekatkan generasi muda dengan nilai-nilai keislaman.

Di tengah aksinya La Adu, Ketua Program Pendidikan Profesi Guru (PPG), A. Rahmat Abidin, M.Pd., tampak siaga sebagai pemandu kegiatan.

Seperti berlayar dengan kapal yang tangguh. Sekali mendayung, tiga pulau harus disinggahi.

Begitulah yang dilakukan Tim PAI ini. Jika guru dan siswa menjadi bagian penting dari kegiatan, masyarakat juga mendapat ruang yang sama.

Rangkaian pengabdian kemudian berlanjut melalui pembinaan Majelis Taklim bersama Dr. Yusuf Abd. Rahman Luhulima, M.Ag. dan Hilaludin Hanafi, M.A.

Sesi ini menyasar orang tua dan jamaah. Pesannya sederhana, tetapi penting: pendidikan keagamaan tidak hanya berlangsung di sekolah.

Apa yang dipelajari anak-anak di ruang kelas membutuhkan lingkungan yang ikut menopangnya. Karena itu, penguatan guru, siswa, dan masyarakat ditempatkan dalam satu rangkaian yang saling melengkapi.

Sekolah membutuhkan guru yang terus belajar. Guru membutuhkan perangkat pembelajaran yang baik. Siswa membutuhkan keberanian dan ruang untuk berkembang. Dan semuanya membutuhkan masyarakat yang ikut menjaga ekosistem pendidikan dan keagamaan.

Menurut Kepala SMAN 27 Seram Bagian Barat, Usran, S.Pd., pengabdian yang dilakukan Prodi PAI FTIK UIN Ambon merupakan wujud nyata pelaksanaan dharma ketiga perguruan tinggi.

“Kami sangat berterima kasih atas perhatian yang luar biasa dari pihak Prodi PAI dalam kegiatan pengabdian ini,” pungkasnya.

Ucapan itu menjadi penanda bahwa dua hari kegiatan telah selesai. Tetapi bagi tim Prodi PAI, berakhirnya kegiatan bukan berarti berakhir pula proses pengabdian.

Ada modul yang harus digunakan. Ada keterampilan mengajar yang perlu terus dilatih. Ada siswa yang perlu terus diberi ruang untuk berbicara. Ada pena kaligrafi yang harus kembali digoreskan. Dan ada majelis taklim yang membutuhkan pendampingan agar pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti sebagai pengalaman sesaat.

Karena itu, Prodi PAI FTIK UIN Ambon berencana menindaklanjuti kegiatan tersebut melalui pendampingan berkelanjutan.

Sebab pengabdian yang baik bukan tentang seberapa meriah sebuah kegiatan ketika dibuka atau ditutup. Ia tentang apa yang masih tersisa setelah semua peserta kembali ke rumah.

Di Dusun Olas dan Dusun Ani, yang ditinggalkan bukan hanya dokumentasi dua hari kegiatan.

Ada guru yang membawa pulang pengalaman baru tentang cara mengajar. Ada draf modul yang siap dikembangkan. Ada instrumen penilaian yang mulai disusun. Ada anak-anak yang menemukan keberanian untuk berbicara di depan orang lain. Dan ada goresan kaligrafi yang menjadi jejak kecil dari sebuah proses belajar.

Pada akhirnya, pengabdian itu bukan sekadar datang untuk memberi. Ia adalah tentang menanam. Dan yang paling penting, memastikan apa yang ditanam itu kelak dapat tumbuh, bahkan ketika mereka yang menanam telah pergi.

  • Penulis: Syamsuar Hamka, M.Pd.I | Sekjur PPG dan Dosen PAI UIN A.M. Sangadji Ambon.