ALMULUKNEWS.COM, BANDA, — Sebanyak 500 anakan pala ditanam di kawasan Benteng Belgica, Pulau Banda, pada Jumat (4/9/2026).

Kegiatan tersebut melibatkan Universitas Banda Neira (UBN) bersama sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Program tersebut dikoordinasikan Danantara dengan melibatkan Pegadaian, PELNI, Mandiri Taspen, dan Permodalan Nasional Madani (PNM). Kegiatan TJSL itu mencakup sejumlah bidang, antara lain pendidikan, kesehatan, serta pengelolaan lingkungan.

Presiden Mahasiswa UBN, Ramadan Lamasano, menyambut baik kegiatan penghijauan tersebut. Namun, ia berharap penanaman pohon tidak hanya berfokus pada jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan tanaman setelah kegiatan selesai.

Menurut Ramadan, beberapa aspek perlu diperhatikan dalam program penghijauan, seperti kesesuaian jenis tanaman, kondisi tanah, ketersediaan air, waktu penanaman, serta mekanisme pemeliharaan.

“Kami tidak menolak penanaman pohon. Justru kami mendukung penghijauan. Tetapi jangan sampai kegiatan ini hanya jadi seremoni. Menanam pohon bukan hanya tanam bibit, berfoto-foto, lalu selesai,” ujar Ramadan.

Ia juga mendorong adanya informasi yang lebih terbuka mengenai program tersebut. Menurutnya, publik perlu mengetahui tujuan kegiatan, jumlah dan jenis bibit, sumber pendanaan, target program, serta mekanisme pemeliharaan dan evaluasi.

Ramadan menilai keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan lingkungan dapat dikembangkan sebagai bagian dari pembelajaran. Mahasiswa, kata dia, dapat dilibatkan dalam pemetaan lokasi, identifikasi tanaman, pemantauan pertumbuhan, dokumentasi, hingga evaluasi.

“Kami mahasiswa, bukan massa seremonial. Kalau kampus mengajak kami dalam kegiatan lingkungan, seharusnya kami diberi ruang untuk bertanya, berdiskusi, dan memahami kajian ekologisnya,” katanya.

Selain keberlanjutan tanaman, mahasiswa juga menyoroti waktu pelaksanaan kegiatan yang berlangsung pada musim kemarau. Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi pertimbangan dalam pemeliharaan bibit agar tingkat keberlangsungan hidup tanaman dapat terjaga.

Pengurus BEM-UBN juga mempertanyakan indikator keberhasilan program. Mereka berharap keberhasilan tidak hanya dihitung berdasarkan jumlah bibit yang ditanam, tetapi turut mempertimbangkan tingkat pertumbuhan dan kelangsungan hidup tanaman.

Ia mendorong penyelenggara melakukan evaluasi secara berkala serta melibatkan masyarakat setempat dan pihak yang memiliki kompetensi di bidang lingkungan. Keterlibatan tersebut dinilai dapat membantu memastikan program penghijauan memberikan manfaat dalam jangka panjang.

Kegiatan penanaman 500 anakan pala diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan penanaman, tetapi dilanjutkan dengan pemeliharaan dan pemantauan. Dengan demikian, program TJSL dapat memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat di kawasan Pulau Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. (IST)