ALMULUKNEWS, AMBON, — Universitas Islam Negeri (UIN) Abdul Muthalib Sangadji Ambon mewisudakan sebanyak 278 sarjana dan 78 magister. Wisuda yang berlangsung khidmat ini dibuka oleh Ketua Senat UIN Ambon, Prof. Dr. Abdullah Latuapo, M.Pd, melalui Sidang Senat Terbuka Luar Biasa Wisuda Sarjana dan Magister Universitas Islam Negeri (UIN) Abdul Muthalib Sangadji Ambon Angkatan II tahun 2026, yang berlangsung di di Gedung Auditorium UIN Ambon, Kamis, 9 Juli 2026.

Rektor UIN Ambon, Prof. Dr. Abidin Wakano, M.Ag dalam laporan akademik merincikan jumlah peserta tersebut; Fakultas Syariah 28 sarjana, Fak Fakultas Ushuluddin dan Dakwah 74 sarjana, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan sebanyak 173 sarjana, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam sebanyak 45 sarjana, Fakultas Komunikasi, Data Sains dan Informatika 8 sarjana, serta Pascasarjana sebanyak 78 magister.

Hadir dalam acara ini, Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, Ketua DPRD Provinsi Maluku, Benhur G. Watubun, Anggota Komisi VIII DPR DI, F. Alimudin Kolatlena, Walikota Ambon, Bodewin Wattimena, orang tua wisudawan serta sivitas akademika UIN Ambon.

Menurut Rektor, semangat integrasi-interkoneksi meniscayakan bahwa pengembangan Tri Dharma Perguruan Tinggi tidak lagi menggunakan paradigma monodisipliner. Perguruan tinggi harus bertransformasi menuju pendekatan multidisipliner, interdisipliner, bahkan transdisipliner dalam realitas masyarakat yang multikultural.

Ia lalu mengutip Al-Quran Surah Al-Hujurat ayat 13, bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal. Karena itu, keberagaman merupakan sunatullah yang harus diterima dan dirawat.

Indonesia, jelas Rektor, merupakan negara yang sangat majemuk dengan sekitar 17.000 pulau. Secara khusus, Maluku terdiri atas sekitar 1.340 pulau, lebih dari 100 suku dan sub-suku, 117 bahasa serta dialek, serta kekayaan hayati yang luar biasa. Kondisi ini menjadi modal besar bagi pengembangan pendidikan tinggi berbasis multikultural.

Oleh sebab itu, semboyan “Cerdas, Berbudi, dan Berdampak” yang diusung menjadi arah pengembangan budaya akademik UIN Abdul Muthalib Sangadji Ambon.

Ia menjelaskan, Cerdas bermakna Ilmu. Berbudi bermakna Iman, dan Berdampak bermakna Amal. Ketiga nilai tersebut menjadi satu kesatuan yang melahirkan lulusan berilmu, beriman, dan beramal.

Konsep ini sejalan dengan pemikiran Thomas Lickona dalam Educating for Character yang menekankan tiga dimensi pembentukan karakter, yaitu knowing the good, feeling the good, dan acting the good.

Menurut dia, saat ini dunia sedang berada pada persimpangan antara Revolusi Industri 4.0 dan Masyarakat 5.0.

Revolusi Industri 4.0 ditandai dengan berkembangnya Internet of Things, Artificial Intelligence, Big Data, dan algoritma yang menjadikan teknologi sebagai fondasi utama kehidupan modern.

Sementara itu, Society 5.0 sebagaimana dikemukakan oleh Mayumi Fukuyama menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan (human-centered society). Teknologi dikembangkan bukan sekadar untuk kemajuan industri, tetapi untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.

Teknologi memang menghadirkan berbagai kemudahan. Namun pada saat yang sama teknologi juga melahirkan tantangan berupa hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, cyber crime, teror digital, serta berbagai persoalan yang dapat mengikis nilai-nilai kemanusiaan.

Karena itu, Society 5.0 hadir sebagai upaya mengintegrasikan kemajuan teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga tercipta masyarakat yang mampu bekerja sama, saling menghargai, serta menyelesaikan persoalan secara kolektif.

Dalam konteks itulah, universitas memiliki tanggung jawab strategis sebagai lokomotif transformasi peradaban.

Universitas tidak hanya menghasilkan lulusan yang menguasai teknologi, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki literasi media, literasi teknologi, literasi plural-multikultural, berpikir kritis, terbuka terhadap perubahan, mampu mengambil keputusan, memiliki kepemimpinan, serta bertanggung jawab kepada masyarakat.

Islam sendiri menurut Prof. Abidin, mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan harus menjadi jalan kemaslahatan.

Ia kemudian mengutip Al-Quran Surah Ar-Rahman ayat 33, manusia didorong untuk menguasai ilmu pengetahuan agar mampu memahami langit dan bumi beserta seluruh isinya. Namun ilmu pengetahuan harus selalu berada dalam bingkai nilai-nilai keislaman sehingga tidak berubah menjadi alat yang merusak kemanusiaan.

Pemikir Muslim Sayyed Hossein Nasr menegaskan bahwa manusia memiliki dua fungsi utama, yaitu sebagai hamba Allah sekaligus khalifah di bumi.

Ilmu pengetahuan harus memperkuat kedua fungsi tersebut. Jangan sampai pencarian ilmu justru menghilangkan dimensi kemanusiaan dan spiritualitas manusia.

Atas dasar itu, UIN Abdul Muthalib Sangadji Ambon membangun pendidikan yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai Islam sehingga menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan akademik sekaligus karakter yang kuat.

Bertrand Russell kata Rektor, pernah mengingatkan bahwa salah satu kecelakaan terbesar adalah belajar sejarah tetapi tidak mengambil pelajaran darinya.

Kesadaran sejarah merupakan investasi masa depan yang sangat penting bagi generasi muda. Mahasiswa harus memiliki kemampuan membaca perubahan zaman sekaligus membangun masa depan yang lebih beradab.

Dalam perspektif Islam, cita-cita besar tersebut bermuara pada terwujudnya peradaban rahmatan lil ‘alamin, yaitu peradaban yang membawa manfaat bagi seluruh umat manusia.

Sebagaimana dijelaskan Kuntowijoyo melalui konsep objektifikasi Islam, nilai-nilai Islam harus diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sehingga memberikan manfaat tidak hanya bagi umat Islam, tetapi juga bagi seluruh masyarakat.

Karena itu mahasiswa harus dibekali kemampuan literasi media, literasi teknologi, literasi plural-multikultural, sikap menghargai nilai-nilai kemanusiaan, kemampuan menyelesaikan persoalan yang kompleks, kepemimpinan, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.

Kemampuan-kemampuan tersebut akan membentuk lulusan yang mampu menjawab tantangan Revolusi Industri 4.0 sekaligus Society 5.0, yaitu lulusan yang responsif terhadap perubahan, memiliki sensitivitas sosial, dan mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat.

Menutup laporan akademiknya, Rektor mengucapkan selamat atas keberhasilan wisudawan dan wisudawati yang telah menyelesaikan sarjana dan magister di kampus UIN A.M. Sangadji Ambon.

“Hari ini bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari pengabdian yang sesungguhnya. Jadilah insan yang cerdas dalam berpikir, berbudi dalam bersikap, dan berdampak melalui karya nyata bagi agama, bangsa, negara, dan kemanusiaan,” pesan Rektor. (HL)